Showing posts with label Aku dan bencana. Show all posts
Showing posts with label Aku dan bencana. Show all posts

Jun 2, 2008

Front Pembela Islam Dan Kebangsaan Kita

Banyak cara untuk mengalihkan perhatian orang. Dan bila terlalu banyak persoalan dan kasus yang terjadi, maka benang kusut yang ada di depan mata. Tak jelas lagi mana kasus yang terjadi secara alami, dan mana kasus yang diciptakan untuk mengalihkan kasus sebelumnya.Description unavailableImage by Alain Bachellier via Flickr

Sesaat setelah pihak kepolisian dituding melakukan pelanggaran HAM dalam bentrok di kampus UNAS tempo hari, kemarin kasus baru muncul dengan aroma api yang sangat gampang tersulut, aroma agama. FPI (atau LPI?* ) menyerbu Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKK-BB)dan celakanya, sebagian besar korban adalah warga Nahdliyin.

Sudah pasti dan tak perlu ditebak, semua media bakal dengan bersiul-siul akan menempatkan kasus bentrok bernuansa agama ini sebagai penyedot perhatian. Efeknya, pemberitaan lain semisal dampak kenaikan BBM, dugaan pelanggaran HAM oleh aparat keamanan, kasus esek-esek dan korupsi DPR bakal tergusur di sudut lain atau malah nyempil di halaman dua.

Pengalihan perhatian? Benarkah? Entahlah. Yang pasti, darah selalu menjadi bagian dari cara kita mengungkapkan pendapat. Darah menjadi tumbal yang wajib tersedia saat perhelatan mengejar ambisi. Eantahlah, sampai kapan wajah (negeri) kita terhindar dari percik darah anak negeri!

Dirgahayu Pancasilaku!

*Hidayullah.com memberitakan bahwa pelaku penyerbuan adalah Laskar Pembela Islam (LPI)

original post by anang, yb

Apr 8, 2008

Ketika Pak Royo Meradang..


Nguiing.. nguing...
Busyet dah! Tengah malem begini kok ada yang nekad menelepon saya. Pasti bukan customer yang ngebet cari citra satelit atau sekadar tanya trik berbohong dengan peta. Lha dalah! Yang nelepon orang yang sangat penting. Pak Royo si pakar selebmatika! (saya langsung tahu karena semua nomor selebritis saya masukkan di ponsel saya).

"Halo, Saya Royo", sapanya halus. Mirip tekanan suara seorang priyagung kraton dalam pentas kethoprak Among Budoyo.

"eh.. iya. Saya Anang", jawab saya rada gagap. Biarpun suka sok-sok an kalau posting di blog, tapi kalau ngomong langsung seringkali saya grogi juga.

"Saya tidak cukup mengenal anda. Karena itu saya berusaha hormat kepada anda. Sayangnya Anda tidak cukup santun dalam menuangkan gagasan, pikiran, dan ide-ide anda di internet."

Saya cuma terdiam karena tahu kalimat barusan sekadar preambul, pengantar dari suatu kalimat inti yang ditahan-tahan.

"Saya protes keras atas tulisan anda di blog. Anda tidak pantas menuduh saya pakar asbun. lebih-lebih anda seorang jurnalis. Semestinya anda bisa chek and recheck, menerapkan both side story, tulisan yang berimbang, berwawasan, menghayati makna kebebasan yang bertanggung-jawab!"

Saya garuk-garuk kepala. Dalam hati saya bertanya, ini Pak Royo atau Bung Harmoko?

"Maaf" sela saya, "saya juga mau protes kalau boleh. Pertama saya bukan jurnalis. Memang saya beristrikan orang koran. Tapi isteri saya bukan di bagian yang suka tanya sana-sini itu. Isteri saya cuma bagian yang ngurusin jatah koran buat cukong koran."

"Bagi saya tidak ada bedanya." potong Pak Royo. "Anda pengganggur dan hidup anda seratus persen mengandalkan dari gaji isteri anda yang bekerja di industri pers. Jadi anda pun bagian dari kapitalis jurnalis." kata Pak Royo tegas.

Busyet dah! Makin ngaco juga pakar satu ini.

"Oh ya. protes satu lagi. Saya menyebut anda asbun bukan tanpa dasar!" sergah saya rada berani.

"Maksud anda?"

"Lha bukankah sebelum anda ngaku-ngaku sebagai pakar selebmatika, anda dulu cuma lulusan fakultas Perkebunan UGM . Pernah juga kerja di kebun jambu monyet sebagai ASBUN alias Asisten Perkebunan? "

"Anda jangan membelokkan pembicaraan. Itu masa lalu saya, dan itu tidak ada hubungannya dengan statement anda yang asbun." sahut Pak Royo sengit.

"Justeru anda yang asbun dan nyata-nyata melanggar privacy saya. Naskah yang anda gugat belum saya publish, dan baru akan nongol dua hari ke depan. Anda tahu kalau di blogspot sekarang ada fasilitas scheduled post?"

"Saudara Anang!" Pak Royo tampaknya makin meradang. "Saya tidak suka blog! Camkan itu! Saya tidak melanggar privacy. Setting blog anda gampang dilacak dengan melihat sekilas dari metadatanya. Jadi jangan salahkan saya atas keteledoran anda sendiri."

"Stop-stop! sudahlah. Ini sudah terlalu malam. Isteri saya sedang diare dan baru bisa tidur lelap sejam lalu!"

"Okey. Terserah anda, bung Anang! Anda mungkin menganggap hal ini sesuatu yang sepele, tapi mungkin tidak cukup sepele untuk kelangsungan perusahaan isteri Anda.."

Saya pun balas meradang. Siapa pun boleh menekan saya, tapi jangan sekali-kali di alamatkan ke anak dan isteri saya! Saya bangkit berdiri dan buuuk...! Saya terjengkang!

"Halah bapak! Mimpi lagi tho.. !"Gerutu anak saya sambil merengut.
"Katanya mau mbikin sarapan nasi goreng. Cepetan dong. Ini udah hampir jam enam pagi. Ntar telat!"

Saya mengucek mata saya yang masih kabur. Untung cuman mimpi! Saya tidak membayangkan betapa gemetarnya dengkul saya kalau benar-benar berhadapan dengan orang penting atau orang yang dekat orang penting gara-gara omongan ngalor-ngidul di blog. Apa mimpi saya terbawa oleh kejadian yang menimpa anak baptis saya , ya?


original post by anang, yb

Mar 6, 2008

Program Tanpa Bendera

.. ketulusan adalah milik mereka yang bisa memberi tanpa mengingat, dan menerima tanpa melupakan.(anang, yb)


Kaum menengah, termasuk anda -masyarakat yang sudah mampu mengakses internet- sering diberi stigma sebagai kaum yang tak peduli pada jatuh-bangunnya masyarakat sekeliling. Bumi berguncang sehebat apa pun, mereka enjoy aja.

Bisa saja mereka berurai air mata saat membaca di internet kisah ibu hamil tua mati sekarat karena kurang makan. Tapi saat kisah itu berakhir di kalimat terakhir, air mata pun kita hapus dan jemari buru-buru menggerakkan scroll mouse, mencari cerita lain yang lebih seru.

Atau bisa jadi kita begitu asyik dan semangat berdiskusi soal gedung SD yang ambrol diterjang banjir, atau jaksa yang diseret polisi. Sayangnya begitu dering handphone menjerit, buru-buru kita berujar: .. eh, sori bro. Gue cabut dulu ya. Pacar gue udah nunggu tuh di depan!

Soal apa yang terjadi di negeri ini: gue sih asyik-asyik aja... sepanjang nggak nyenggol gue!

Itulah makanya dulu rekan saya mendirikan MPD alias Masyarakat Profesional untuk Demokrasi. Mereka ikut berdemo walau tetap menenteng handphone dan naik taksi untuk masuk ke gedung MPR.

Tapi tak usahlah anda seperti itu bila memang tidak tertarik.

Hari ini saya menemukan sebuah blog yang dibuat lewat layanan blog gratisan. Tak ada asesoris widget warna-warni di sana. tak ada juga kotak Mybloglog atau deretan iklan adsense.
sederhana sekali. Bukan pula deretan gambar artis seksi yang terpajang, tapi justeru gambar polos bocah usia sekolah. Wajah-wajah yang tidak beda jauh dari wajah menggigil yang seringkali menghampiri kita di lobby kantor sambil menawarkan payung.

ada foto dea yang tanggal lahirnya selisih enam hari dari ultah saya
ada Dafa yang tinggal di rumah petak
ada Reza yang pastinya bukanlah yang tinggal di Brajamusti
dan ada juga Laura, Magda, Miko, dll

Ada cita-cita yang ingin mereka wujudkan, tentu lebih dari sekadar cita-cita untuk bisa nongol di internet. Anda pun bisa membantu mewujudkan impian mereka kalau memang terketuk. Tak apa walau anda mungkin sekadar membantu menghantar mereka menaiki satu anak tangga saja.

Kunjungi mereka di situs PROGRAM TANPA BENDERA. Inilah program tanpa wajah, membantu tanpa harus diketahui siapa jati diri kita sebenarnya..

Inilah kekuatan blog yang mungkin tidak dikira oleh Mas Roy. Kekuatan masyarakat anonim, tak berbendera, tak hirau dengan publikasi tapi bisa berbuat untuk negeri.

Inilah anomali lain dari kaum menengah, sebuah pemberontakan dan pengingkaran dari stigma buruk!


original post by anang, yb

Mar 4, 2008

Walhi Ajak Masyarakat Sewa Hutan Lindung

Bila anda punya uang receh, jangan buru-buru dikasihkan ke pengamen, apalagi pengamen yang cuma bisa jrang-jreng sekenanya. Ada dua peluang besar buat anda. Yang pertama, anda bisa gunakan untuk belanja nama domain yang makin memurah. Nggak butuh "barang begituan"? Okey deh. Kalau begitu belanjakan saja untuk yang satu ini: beli kapling hutan lindung!

Belanja kapling hutan lindung jelas teramat murah. Jauuuuh... lebih murah dibandingkan uang keamanan yang dipatok preman cengeng di sekitar lapak-lapak kumuh di ibukota.




Lebih detailnya, baca saja tulisan di bawah ini yang saya kutip dari Media Indonesia dan media indonesia mengutipnya dari Antara:


Aksi protes LSM lingkungan hidup Walhi terhadap kebijakan Peraturan Pemerintah (PP) No 2 tahun 2008 tentang Penerimaan Negara dari Bukan Pajak (PNBP) berupa izin kegiatan pertambangan terbuka di kawasan hutan lindung terus bergulir, bahkan ide terbaru adalah dengan mengajak masyarakat Indonesia ramai-ramai menyewa kavling hutan.

"Mulai pekan depan, Walhi akan menggelar kampanye agar masyarakat menyewa lahan hutan lindung yang masih tersisa di Indonesia agar tidak disewa oleh perusahaan tambang," kata Chalid Muhammad, Direktur Eksekutif Walhi, di Jakarta, Minggu (2/3).

Menurut Chalid, secara resmi kampanye ini akan diluncurkan pada awal pekan, atau sekitar Senin (3/3) atau Selasa (4/3). "Daripada disewa oleh perusahaan tambang, yang jelas-jelas hanya akan mencemari kawasan hutan lindung, lebih baik masyarakat yang menyewa dan uangnya diserahkan ke negara sebagai tambahan pendapatan," katanya menjelaskan.

Ia menjelaskan, saat ini pemerintah mengeluarkan PP No 2 tahun 2008 sebagai salah satu cara mendapatkan pendapatan dari hutan. "Daripada disewakan ke perusahaan tambang, lebih baik masyarakat menyewa dengan tarif Rp1.000 per meter persegi untuk masa sewa 1 tahun. Dan uang yang terkumpul akan diserahkan ke Departemen Keuangan sebagai tambahan untuk kas negara," katanya.

Sementara itu Greenomics Indonesia menyatakan upaya pemerintah menggenjot penambahan penerimaan negara dari sektor pertambangan umum sebesar Rp1,5 triliun dalam revisi APBN 2008 - dari angka awal Rp4,24

triliun menjadi Rp5,77 triliun - adalah satu bentuk kebijakan yang tidak cerdas.

"Kebijakan itu menjadi tidak cerdas karena di sisi lingkungan hidup itu berarti mengorbankan hampir satu juta hektare hutan lindung untuk aktivitas pertambangan terbuka," kata Direktur Eksekutif Greenomics Indonesia Elfian Effendi di Jakarta, beberapa waktu lalu.

(Ant/OL-03)



original post by anang, yb

Jan 1, 2008

Selamat Datang 2008, Selamat Datang Banjir Bandang


gambar ngambil di sini.

Imlek identik dengan hujan deras dan terkadang banjir juga. Tapi tampaknya hujan bukan lagi makhluk yang penyabar. banjir Bandang dan hujan bak langit terbelah telah mengguyur negeri ini, utamanya Jawa di akhir tahun. Banjir bandang di mana-mana, termasuk komplikasinya yakni tanah longsor dan rusaknya rumah dan sarana-prasarana.

Tak perlu menunggu hitungan berapa jumlah kerugian yang timbul (yang beginian biarlah dihitung oleh para pejabat)yang pasti wilayah pemukiman yang sudah dihuni sejak manusia purba, yakni di sekitar Bengawan Solo berubah menjadi lautan coklat susu. Banjir campur lumpur dan longsoran tanah.

Tak luput juga daerah sekitar permukiman mertua saya di Solo Baru. Tempat saya tunangan, menikmati tengkleng, bubur ceker, warung lesehan Pak Item (kakak ipar saya) dan berikrar sehidup semati dengan cewek yang sekarang. Solo Baru yang di masa kerusuhan 1998 banjir darah dan banjir api, kini dilahap si jago coklat alias banjir.

Yang masih hapal doa-doa, sumbangkan saja sedikit waktu anda untuk berbagi doa. Yang masih menggenggam sisa THR natal, salurkan saja seiklasnya. Bisa datang langsung, lewat kotak amal di sepanjang jalan, atau kalau ribet sambangi saja bank terdekat dan salurkan lewat rekening bantuan amal yang mendadak banyak bermunculan di TV, koran, majalah, dll. Kalau mau sedikit beda, sumbangan bisa juga disalurkan lewat rekening yang dipajang cosa aranda di situsnya.
Selamat tahun baru, kayaknya musibah masih bakal mengisi tahun yang baru ini!

original post by anang, yb

Nov 20, 2007

Darah Simbah Dicuci



Panggil saja ibuku dengan sapaan Bu Jakob. Namun kalau anda pingin memanggilnya Mbak Sun atau Mbak Dari tentu saja ibuku tetap akan menengok dan tersenyum sambil memamerkan giginya yang mulai tanggal.

Bu Yakob kini tak lagi segesit dulu. Penyakit diabetes yang tanpa disangka diidapnya telah menggerus habis tubuhnya. Kulit menghitam, daging menghilang. dan, sejak setengah tahun lalu, fungsi ginjalnya tak lagi berdaya. Awalnya, mesin cuci darah hanya diperlukan setiap jumat. Namun sejak tiga bulan lalu, jadual mencuci darah harus dipenuhi setiap selasa dan jumat, seminggu dua kali!

Ah, simbah. Tak terbayang di masa lalu hidupnya sepenuhnya diabdikan untuk mengajar di SD inpres. Belasan tahun dikayuhnya sepeda onthel hitam menyusuri jalanan kota Bantul untuk menuju 'kantornya'. Sampai akhirnya Koperasi "SINAR", koperasinya pegawai negeri di Bantul meloloskan pengajuan sepeda motor Yamaha Bebek. Simbah pun menjadi berkurang capeknya sejak ditemani si Yamaha bebek.

Simbah tak pernah mengeluh. Demikian juga Pak jakob, suaminya, yang keduanya adalah orang tua saya. Berdua mereka membesarkan kelima anaknya tanpa pembantu! Kalian adalah raja sekaligus pelayan di rumah ini, pesan bapakku suatu ketika.

Yah, ibu yang guru SD inpres dan Bapak yang kepala sekolah SMP Putratama, salah satu sekolah swasta di Bantul. Bapak yang pendiam namun jago mengajar bahasa inggris, fisika, musik, menyanyi, dan... mengarang (ini yang diwariskan kepadaku) dipadu dengan ibu yang tegas, selalu menemani (dan sesekali berusaha sabar) saat kami berlima mengelilingi meja sambil membaca buku. Sesekali juga Bapak memompa lampu petromaks yang setengah jam sekali meredup.

***

Bapak meninggal saat kami semua sudah diwisuda. Syukurlah. Apa lagi yang bisa dibanggakan pasangan guru selain mengikuti upacara wisuda ke lima anaknya? Empat lulusan UGM dan satu lulusan UNS. Satu keinginan Bapak yang belum kesampaian hingga akhirnya hayatnya: membeli mobil untuk keluarga, sebab hingga maut menjemput, tabungan belum cukup untuk membeli mobil bekas termurah sekali pun. Semua uang telah didedikasikan untuk pendidikan kami.

***

Simbah pun akhirnya menjadi kepala keluarga, walau kami telah tercerai berai. Saya dan adik terkecil di Jakarta, kakak di Yogya dan Kediri, serta satu adik lagi di Bandung. Simbah tetap bertahan di rumah lama kami, di Dusun Gedongan bertetangga dengan keluarga pak Jenggot yang ayahnya Udin wartawan Bernas itu. Simbah lebih memilih tinggal di sana, menunggui sisa harta yang dimilikinya, rumah kami dan motor Yamaha bebek kesayangannya yang sudah berusia puluhan tahun.

***

Terbukti, walau sudah di alam sana, Bapak masih menemani ibu. Genap selamatan 1000 hari meninggalnya Bapak, gempa mengguncang dusun kami. Simbah berdarah, tapi selamat.
Harta milik simbah pun tak lagi berupa. Rumah roboh dan Yamaha bebeknya terurug bongkahan-bongkahan tembok. Sama seperti ribuan keluarga lain yang berduka, Simbah pun sangat berduka. Sangat mendalam.
Simbah pun akhirnya tinggal di rumah anak-anaknya. Sekian bulan di Kediri, dan sekian bulan di rumahku. Sampai akhirnya suatu ketika simbah sakit. Dari sanalah akhirnya diketahui kalau simbah pun menderita penyakit yang sama dengan bapa: diabetes! Tampaknya penyakit ini tidak datang tiba-tiba. Mungkin sudah lama diidapnya. namun sama seperti Bapak, ibu pun tak pernah meperlihatkan rasa sakitnya di depan anak-anaknya. tak sekali pun mengeluh atau memasang wajah duka.

***

hari-hari terus berlalu, tak hanya sekali ibu harus masuk rumah sakit. Obat apa pun yang diberi dokter diminumnya, sampai akhirnya ginjalnya tak lagi berdaya. Entah karena komplikasi dari penyakit diabetes atau dari obat yang dikomsumsinya setiap hari. Ibu pun kini tergantung mesin cuci darah.

***

"Aku lagi nunggu uang pensiun bulan desember dan THR natal" kata ibuku saat aku menjenguknya di awal nopember lalu. "Aku pingin pasang klep di tangan biar cuci darahnya gampang. Soalnya kalau selangnya dimasukkan pakai suntik, badan dan tangan tidak boleh gerak-gerak. Pinggangku tidak kuat tiduran empat jam selama cuci darah". Aku cuma terdiam. Ibuku tak pernah dan tak bakal mau meminta uang dari anaknya. "Katanya biayanya satu juta empat ratus," lanjut ibuku. "Nanti uang pensiun dan THR ditambah tabunganku di BPD moga-moga cukup."

Ah, simbah.....
original post by anang, yb

Nov 9, 2007

Jogja: Tak sempat aku berlama-lama denganmu...


Barusan balik dari Jogja setelah hampir setengah tahun kakiku tak menginjaknya. Sayang, tak cukup waktu berlama-lama di sana. Cuma tiga hari, dan Jakarta kembali menyeretku tanpa ampun.

Ingin rasanya segera berbagi cerita. tentang rumah kayu kakaku yang telah berdiri setelah rumah lamanya ditiup gempa satu setengah tahun lalu. tentang obsesiku yang jadi nyata, dan.... tentang ibuku di Bantul yang kini harus cuci darah dua kali dalam seminggu....

original post by anang, yb

Oct 4, 2007

Jun 5, 2007

Jogja Bakal Mengalami Gempa dan Tsunami -> Besok 7 Juni


Pagi-pagi dapat SMS dari seorang karib di Jogja:

"Pak di jogja rame nih, ada isu gempa+tsunami bsk tgl 7 jun, para bakul2 di psr2 pd kompakan libur ndak jualan, gayeng wis, trs kl yg prcy ma dukun wis pada pasang sajen gitu..."


Nah lho..., bila sistem peringatan dini dari pemerintah tak kunjung mantap, maka rakyat balik maning nang dukun...

Tapi soal peringatan dini bakal ada gempa, rakyat Joja masih teramat percaya dengan tanda-tanda alam, utamanya bentuk awan. Bila di langit ada awan berbentuk ekor komet atau mirip lintasan pesawat jet, maka dijamin dalam waktu tak lama bakal ada lindhu (jawa= gempa).

Coba deh baca fenomena ini di posting saya terdahulu..

original post by anang, yb

Feb 26, 2007

Jurus bertahan hidup di laut setelah musibah


Levina I walau sudah menjadi bangkai masih juga minta korban. Yah, musibah bisa menimpa siapa saja, tidak peduli apakah anda seorang wartawan yang sedang meliput di laut, geografer yang sedang survei di rawa, atau apapun profesi anda.
Berikut ini sedikit tips bertahan di laut bila anda terlanjur mendapat musibah di sana. Materi tulisan saya kutip dari majalah INTISARI edisi Desember 2006.

Jurus Bertahan Hidup di Laut:
a. Jika terjadi sesuatu pada pesawat atau kapal yang Anda tumpangi, usahakan berenang menjauh, terutama jika terjadi ledakan dan api. Menjauhlah dengan melawan arah angin. Jika di permukaan air terdapat banyak api, berenanglah ke dalam air.

b. Selain pelampung, kita dapat menggunakan barang-barang yang dapat mengapung. Biasanya terdapat plastik seperti jerigen atau dry box yang telah dikosongkan.

c. jangan panik dan jangan membuang tenaga. Berat jenis tubuh lebih rendah dari air laut sehinga kita akan lebih mudah mengapung. Ketakutan hanya akan membuat kita cepat tenggelam dan napas terburu-buru akan membuat air mudah tertelan. Bernapas yang dalam justeru membuat tubuh lebih ringan.

d. Agar dapat tetap mengambang, usahakan selalu berpegangan pada barang-barang yang jadi tumpuan. Jika permukaan air relatif tenang, dengan mencelupkan kepala ke dalam air dan merentangkan tangan akan membuat tubuh lebih ringan

e. Walau ada yang mampu bertahan hidup dengan meminum air laut dalam jumlah tertentu, hal itu sebaiknya jangan ditiru. Air laut dapat menyebabkan dehidrasi.

f. Tetaplah menggunakan sepatu untuk mencegah luka, kecuali sepatu boot yang justeru akan menyimpan air dan memberatkan gerakan.

g. Jika bagian tubuh terasa kram, usahakan memencet area tersebut dengan jempol atau telapak tangan. Akan lebih baik jika ada orang lain yang bisa menolong. Beri tekanan di bagian yang kram lalu renggangkan ototnya.

h. Jangan terlalu takut dengan ikan hiu, karena mereka biasanya hanya akan menganggu jika ada pergerakan mencolok atau suara yang keras.

i. Jika yakin kita bisa mengirimkan isyarat, misalnya radio masih berfungsi, maka akan lebih baik jika kita tetap berada disekitar lokasi. Tapi kalau memang tidak ada harapan, bisa diupayakan berenang menuju daratan, terutama jika sudah terlihat garis pantai

Feb 19, 2007

Stop Press : Jogja Diterjang Angin Puting Beliung

Minggu sore pukul 16.30 WIB kota Jogjakarta diterjang angin vertikal atau biasa dikenal dengan julukan puting beliung. Dari 4 Kecamatan yang terkena bencana, kondisi terparah menimpa dua kecamatan yaitu kecamatan Danurejan dan Gondokusuman.
Stasiun kereta Api Lempuyangan termasuk salah satu bangunan yang tersapu angin. Hingga hari ini dilaporkan lebih dari 1000 bangunan rusak, sejumlah sekolah, fasilitas umum, papan reklame, dan terutama pohon menjadi korban dari bencana yang jarang terjadi di Jogjakarta.
Ikuti perkembangan berita tentang kerusakan kota Jogjakarta akibat puting beliung di www.indonesian-headlinenews.blogspot.com

Feb 5, 2007

Banjir : mengubah Kota Metropolitan menjadi Kota Metro empot-empotan

Laporan dari situs Berita Jakarta, mengabarkan banjir yang melanda DKI Jakarta tiga hari terakhir ini mengakibatkan jumlah pengungsi terus bertambah. Hingga Sabtu (3/2) malam, jumlah pengungsi di DKI Jakarta mencapai 111.774 jiwa atau 30.364 Kepala Keluarga (KK).

Genangan air paling parah terjadi di Angke, Jakarta Barat, mencapai dua meter. Bahkan beberapa rumah warga terendam hingga mencapai atap rumah. Banjir terparah nomor dua terjadi di Kawasan Jakarta Utara, yaitu di Kelapa Gading dan Kapuk Muara, ketinggian air berkisar antara 50 cm hingga 180 cm.

Namun, belum semua warga yang berhasil dievakuasi. Pasalnya, selain akses menuju lokasi sulit dijangkau karena sempit, jumlah armada perahu karet yang dikerahkan pun sangat terbatas. Oleh karena itu, masih banyak warga yang belum terevakuasi. Misalnya di wilayah Kelapa Gading Barat masih terdapat sekitar 400 KK yang belum terevakuasi.

Laporan lain dari media TV: banyak cara untuk mengungsi, kalau duit masih berlimpah, sambangi saja hotel-hotel bertingkat di seantero Jakarta. Yap ! Selama beberapa hari terakhir ini tingkat hunian hotel melejit hingga 90an persen wow. Banjir duit untuk pengelola hotel.

Untuk yang tidak banyak duit ada beberapa alternatif yang bisa dipilih. Tetap bertahan di loteng atau genteng, gabung dengan pengungsi lain di emperan, atau pilih an terahir: nginep di kuburan....

Jan 29, 2007

Pulang ke kotamu #1: Rumah dengan Kutang

27 Januari 2007 saya nengok Jogja. Bukan niat yang disengaja kalau pada tanggal yang sama delapan bulan lalu (27/05/06) rumah saya roboh karena gempa.
Kini rumah saya sudah tegak dan malah lebih tegak dari sebelumnya. Tiap sudut tembok telah disuntik dengan rangkaian besi 12 mm. Walau masih telanjang, belum diplester (sebab sebatas itulah bantuan dari pemerintah) tapi hati sudah lega. Ibu saya sudah berani menginjakkan kaki di Bantul setelah delapan bulan mengungsi.
Full-bata seperti rumah baru kami, tidak berlalu untuk beberapa saudara/tetangga lain. Entah karena dana terbatas atau buru-buru ingin memperbaiki rumah tanpa menunggu terpenuhinya janji Manis Bung JK, banyak warga Jogja membangun rumah dengan model "kutangan". Apa itu kutangan ? Kutang ya kutang, penutup dada yang biasa dipakai simbah-simbah.
Rumah kutangan ibarat wanita (tua) Jawa tempo doeloe. Bawah rapat terbalut kain, atas terbuka dan hanya bertutup kutang.
Rumah kutangan memiliki konstruksi bagian bawah (sekitar satu meter) rapat tertutup bata. Sedangkan atasnya -demi mengirit biaya- ditutupi dengan gedeg, anyaman bambu.
Jadinya malah artistik walau bukan karena alasan itu model ini dipilih.
Kapan mampir ke Jogja ?

Pulang ke kotamu #2: Mengapa Tidak mengemis lagi ?












KAPOK NGEMIS !
Mana ada orang Jogja yang tidak kenal dengan sesanti ini ?

Kapok Ngemis !
bagai mantra yang menyihir orang Jogja
untuk buru-buru menghapus mair mata cengeng

Kapok Ngemis!
Kulino laku prihatin - terbiasa dalam hidup prihatin
membuat orang Jogja menepis wajah keluarga
yang terperangkap puing bersimbah darah

Hidup harus terus dilakoni
Saatnya menggulung tenda-tenda koyak
Tidak perlu lagi berlama-lama memasang raut memelas,
memeras air mata di depan pejabat dan kamera
Atau memaki kanan-kiri atas-bawah hingga ludah muncrat

Matur nuwun
buat SBY-dan JK
walau teramat lambat dan terlambat,
walau tidak sebanyak yang dijanjikan,
tapi tetap matur nuwun: dana rekonstruksi telah mengalir

Kapok Ngemis !
Moga-moga menginspirasi pengungsi di belahan lain di negeri ini.


Pulang Ke Kotamu #3: Gereja Korban Gempa, Gereja Hiawata


Masih dalam rangkaian balik Jogja, Minggu (28/1/07) saya sempatkan mampir dan ikut misa di Gereja St. Jakobus, Klodran Bantul. Kebetulan hampir seluruh masa kecil-remaja saya ditempa disitu. Tentu saja termasuk mencari pacar...;)
Bangunan Gereja tampak masih belum tersentuh semen sejak dikoyak gempa. Tidak ada tanda-tanda untuk segera menancapkan beton, ataupun mendatangkan puluhan truk pasir dan batu kali.
Tapi jangan kaget, ada bangunan gereja darurat yang malah jauh lebih artistik!
Materialnya hampir seluruhnya dari bambu. Bukan berbentuk bedeng, bukan pula joglo yang sok kejawa-jawaan.
Dari jauh, bangunan ini mirip kemah Hiawata, tokoh komik anak indian. Berbentuk kerucut menjulang ke atas. Semuanya ditopang dengan bambu. Anda pernah melihat gereja Poh Sarang di Kediri ? yah, mirip-mirip lah bentuknya. Bedanya, kalau yang di Kediri ditopang dengan kawat-kawat baja, yang ini bener-bener lain. Seratus persen bambu.
Bahkan penutupnya pun dari ruas-ruas bambu yang sudah dibuang ruasnya, kemudian "digepuk" -> dipukul-pukul dengan hati-hati hingga membentuk lembaran selebar kertas A4. Entah ada berapa ribu ruas bambu untuk menciptakan genteng unik ini.
Gereja artistik ini bisa memuat sekitar 50 bangku panjang atau setara 300 umat.
Sayang sekali, saya lupa membawa kamera, hugh !
Oh ya, saya sempat kaget saat diumumkan ada coffe morning seusai misa...
Oalah.., ternyata beberapa ibu-ibu yang sudah berumur sudah menyiapkan beberapa termos kopi dan teh plus bakwan dan lemper di depan gereja !
Sruput..! Nasgitel ... Hangat. Sehangat sapaan, " monggo mas, dipun kedapi lemper ipun..."

NB: tampaknya, gereja katholik memilih untuk menjadi "yang paling akhir" dalam memperbaiki bangunan yang rusak. Benar juga, rasanya terlalu naif bila bangunan tempat ibadat sudah berdiri mentereng dengan cat mengkilat sementara masyarakat sekeliling masih berhimpit di tenda-tenda yang mengoyak.

Donasi untuk partisipasi menegakkan kembali dinding gereja St. Yakobus Bantul klik di sini.

Jan 2, 2007

KAIN HITAM UNTUK KORBAN ADAM AIR


Tiada kata lain yang pantas terucap selain....

TURUT BERDUKA ATAS MENINGGALNYA PENUMPANG ADAM AIR PADA TANGGAL 1 JANUARI 2007

Menangislah, bila itu bisa melegakan...
Berdoalah, bila itu kau yakini mampu menghantar jiwa-jiwa ke surga...

"Segala sesuatu ada masanya...
ada lahir ada mati...
Ada kesedihan ada pula kemuliaan..."

God Bless You !

>> baca juga "Tentang Adam Air yang Nyasar - Kita Bangsa Pemaaf" - posting 23/2/2006

Sep 29, 2006

Lapindo Brantas: Sang Negosiator

Penanggulangan semburan lumpur panas di Porong, Sidoarjo dapat dikisahkan dari sisi yang unik: sepak terjang sang negosiator.
Lepas dari peran pat-gulipat, keberhasilan "meluluhkan" pejabat hingga level tertinggi tentulah bukan perkara yang semudah menghisap Djarum Black.
Awalnya: lumpur panas Tidak boleh dibuang ke Sungai Porong dan laut
Selanjutnya: Boleh saja dibuang ke laut asal dilakukan treathment yang diawasi ketat. Pengaliran lumpur menggunakan pipa.
Selanjutnya lagi: Silakan dibuang ke laut tanpa proses pengolahan apa pun.
Selanjutnya lagi dan lagi: Silakan buang ke laut melalui Sungai Porong
Dari sisi argumen, telah disiapkan kalimat-kalimat sakti semisal "force majeur", "pilih mana, melindungi ikan atau nyawa manusia?", "Lapindo telah mengeluarkan dana 1,5 triliun", "kawasan Porong adalah daerah rawan bencana-tidak layak ditinggali", "lumpur bermanfaat untuk reklamasi" bla-bla-bla...
Hmm... proses negosiasi memang untold story, setidaknya belum ada media yang mau berpeluh melakukan investigasi. Atau ada yang bisa berbagi cerita?

Jul 19, 2006

Teori Gempa Prof. Tsuboi

"Wilayah pelepasan energi gempa sekitar 300 km x 300 km. Bila salah suatu wilayah telah melepaskan energi, maka wilayah di sekitarnya akan mengikutinya"

Pak Josh, pakar penginderaan jauh kelahiran Bandung menulis lewat milis RSGISFORUM:
Kalau merefer teori Prof Tsuboi (teori yang mungkin kurang dikenal khalayak, beliau hidup 1902-1982), wilayah pelepasan energi dalam bentuk gempa bisa dibagi menjadi blok-blok dengan luasan kira-kira 300kmx300km. Bila salah suatu wilayah telah melepaskan energi, maka wilayah disekitarnya akan mengikutinya hingga kondisi tenang di jalur tumbukan plate.
Teori simple ini mungkin bisa digunakan untuk menerangkan rentetan gempa di Indonesia yang diawali dengan gempa Aceh selanjutnya beruntun terjadi di Sumbar, Bengkulu, Lampung, Yogya dan sekarang di selatan Jabar.
Wilayah lain yang belum mengalami gempa atau pelepasan energi ini, mungkin perlu perhatian tersendiri atau setidaknya berjaga-jaga.

Jul 18, 2006

Dentuman -awan vertikal- gelombang pasang

Maafkan saya bila tulisan di bawah ini ngawur dan tidak ilmiah...

Gelombang pasang telah menyapu sebagian pantai selatan Jawa (17/7). Dari sekian banyak berita dan informasi tentang kejadian itu, ada satu kabar-kabari berupa spekulasi bahwa gelompang pasang tersebut bukan kejadian alami. Yah, anggaplah spekulasi ini khas orang Jawa: spekulasi "gothak-gathuk" -menarik benang merah dari beberapa kejadian yang (semula tampak) tidak saling terkait.
Anda mengikuti berita KOMPAS tentang fenomena-fenomena aneh di Bantul pasca gempa 27 Mei 2006 ?
Diberitakan, saat ini penduduk Bantul khususnya di dekat pantai, sering mendengan suara dentuman dari dalam tanah. Suara dentuman ini tidak hanya terdengar sekali, namun berkali-kali dengan intensitas berbeda. Fenomena lainnya adalah munculnya cahaya terang yang meluncur di atas langit disusul awan vertikal. Beberapa orang pintar dari UGM (pakar geologi, geografi) berusaha memberi jawaban atas fenomena ini, sayangnya bukan jawaban memuaskan yang terdengar. TV7 pun ikut menayangkan fenomena ini.
Kini ada satu kejadian alam lainnya: gelombang pasang dengan kekuatan besar yang mampu menyapu pantai selatan Jawa.
Bila tiga kejadian tersebut disandingkan: dentuman dari dalam tanah - awan vertikal di langit - gelombang pasang, kira-kira apa ya benang merahnya ?
SMS (konyol) yang masuk di handphone saya: ini percobaan nuklir....

Jul 14, 2006

Jurang Di Antara Korban Tsunami dan Penerima Proyek


Kenapa pula Tuhan meng-install nurani.exe dalam otakku?
Andai tidak ada program antivirus itu di diriku, tentu aku bakal nyaman-nyaman saja menerima dua fakta berikut:
Fakta pertama dari kompas (13/7) hal. 23 berbunyi: "....mereka mengusir kami dari tenda, sedangkan rumah kami belum jelas kapan dibangun. Lelah kami mengajukan pada panitia desa agar membangunkan rumah di bekas rumah saya yang hancur karena tsunami di Desa Emperom."
Fakta kedua berasal dari SMS yang nongol di Samsung bututku pada hari yang sama, menjelang magrib. Kiriman dari karib lama: "Mas aku di Aceh, kebetulan kita membutuhkan ahli GIS. Kontrak per 6 bulan ditempatkan di BRR sebagai technical assistance, rate 12-15 juta depend on exp."
Duh, sayang banget nurani.exe susah di-uninstall karena menyatu dengan operating system!