Showing posts with label Aku dan keluarga. Show all posts
Showing posts with label Aku dan keluarga. Show all posts

Sep 20, 2008

Makanan kita: Reuse, reduce, dan recycle


Ini bukan cerita soal wisata kuliner, bukan pula soal kemampuan inovasi dari sekelompok masyarakat. Ini adalah daftar panjang dari temuan aneka makanan aneh bin ajaib yang bisa jadi sudah sering kita konsumsi:

- Telur ayam kampung palsu yang dibuat dengan merendam telur ayam biasa di dalam larutan pencuci porselin/kloset
- Siomay dan empek-empek yang dibuat dari daging ikan sapu-sapu
- Daging ayam tiren (mati kemaren/bangkai)
- Bakso yang mengandung borax dan formalin
- Tahu berformalin plus pemutih
- Ikan asin berformalin
- Kerupuk kulit dan kikil yang diolah dari limbah penyamakan kulit
- Jajanan yang diberi pewarna tekstil
- Peredaran gula rafinasi di pedagang pengecer
- Daging sapi gelonggongan; sapi sebelum disembelih digelontor dengan air menggunakan kompresor
- Daging ayam gelonggongan
- Nugget dan sosis yang diolah dari campuran daging, otot, dan tulang binatang yang sebetulnya adalah bahan makanan ternak
- Jus yang berasal dari buah yang dikumpulkan pemulung dari tong sampah hotel, restoran, dan pasar
- Makanan dan lauk hasil daur ulang makanan buangan dari tong sampah hotel, restoran, dan pasar.

Kurang panjang daftar di atas? Sepanjang apa pun daftar makanan aneh tersebut, tampaknya kesabaran kita musti lebih panjang lagi sebab di setiap daerah pastilah ada kreatifitasnya sendiri-sendiri.

Daftar makanan di atas adalah wujud dari aplikasi konsep reduce, reuse, dan recycle khas negara miskin. Bukan mengolah kertas bekas agar menjadi tisu tapi malah mengolah bahan jaket menjadi kerupuk kulit!

Tak ada tips yang bisa saya tularkan kepada anda untuk menghindari makanan sampah di atas kecuali baliklah ke dapur anda. Makanan yang dimasak sendiri tentulah relatif tidak terlalu buruk dibandingkan makanan jadi. Setidaknya ada bumbu cinta di dalamnya :)


original post by anang, yb

Aug 13, 2008

Pencapaian


Setinggi apa engkau sudah menggapai mimpi?


Tak terasa sudah 12 tahun terhitung sejak Februari 1996 saya diwisuda. Tak terasa juga kini sudah masuk Bulan Agustus, bulan dimana saya selalu berhitung seberapa jauh saya menjalani profesi sebagai geografer secara self employed. Hemm, tujuh tahun ya, bila dihitung dari start bulan Agustus 2001.

Self employed? Ah entahlah. Mana yang lebih tepat antara self employed dan freelancer. Yang pasti profesi geografer saya jalani tanpa kewajiban ngantor setiap hari, berangkat subuh pulang selepas jam 8 malem. Cukuplah isteri saya yang seperti itu :).

Seberapa tinggi kaki saya melangkah? Masih jauhkah dari titik tertinggi yang berani saya impikan? Tampaknya tidak lama lagi. Banyak hal sudah saya peroleh. Rumah tipe 36 sudah lunas. Honda Supra pun sudah lunas. Uang sekolah buat kakak masuk SMP dua tahun lagi juga sudah ada. Uang sekolah masuk SD untuk si kecil pun sudah saya tabung walau si kecil saat ini masih TK kecil. Dan... sebuah gerobak jepang pun sudah ada sebagai penanda ultah perkawinan yang ke-sepuluh.

Kemana saya musti mengarahkan kepala ini? ke bawah? Yap, tentu masih banyak teman se angkatan dan se almamater yang belum sampai pada titik yang saya peroleh. Baik dari sisi finansial maupun kenyamanan bekerja. Bahkan untuk teman geografi yang lebih tua dan lebih dulu lulus. Yah apa mau dikata: geografer bukanlah komunitas yang punya "departemen". Bandingkan saja dengan alumni fak. kehutanan yang punya Departemen Kehutanan, atau rekan alumni pertanian yang punya dep. Pertanian.

Perlukah saya mendongak? Tentu. Banyak juga rekan seumur yang sudah mencapai tingkat yang masih dalam impian saya. Memperoleh proyek prestisius dengan nilai besar, sudah berani membuka konsultan sendiri, sudah berani menolak pekerjaan entry level/operator, termasuk... mengerjakan proyek lintas negara! Ah indahnya bila semua itu bisa diraih. Terkadang pingin juga seperti yang lain, presentasi di Vietnam, membuat proyek tata ruang di Manila dll...

Tapi ada satu yang saya banggakan dan selalu saya sombongkan. Saya bisa mencapai titik seperti sekarang ini dengan cara yang sangat nyaman. Masih sangat banyak waktu untuk kedua bocah kecilku: masih sangat sempat untuk menguncir rambut si kakak sebelum berangkat sekolah, memasak spagheti untuk sangu sekolah, mengantar si kecil masuk TK, terkadang mengantar isteri berangkat kerja atau... sekadar browsing internet mencari jawab atas tugas-tugas sekolah.

Bagaimana dengan anda? Seberapa tinggi pencapaian anda sekarang?



original post by anang, yb

May 12, 2008

PERDA Air Susu Ibu ?

Coat of Arms of Indonesian province of South Sulawesi.Image via WikipediaSumpah, judul di atas bukan sekadar kiasan!

Asal tahu saja, saat ini Provinsi Sulawesi Selatan dengan bantuan UNICEF sedang menyusun sebuah rancangan peraturan daerah tentang penggunaan Air Susu Ibu. Menurut penuturan dr Saad Bustam, Pejabat sementara (Pjs) Kepala Dinkes Sulsel di Makassar seperti dikutip kompas, saat ini posisi Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Sulsel berada pada posisi ke-23 di Indonesia sehingga sangat penting meningkatkan IPM yang berpenduduk sekitar 7,4 juta jiwa ini.

So, setelah Perda ini nantinya punya kekuatan hukum, 'kegiatan' pemberian ASI pada balita makin punya dukungan legalitas. Setidaknya Pemda punya dasar kuat untuk 'memaksa' para ibu yang enggan menyusui balitanya.

Moga-moga, efeknya tidak hanya tertuju pada para ibu ya, tapi juga pada pemilik Mall agar menyediakan bilik menyusui, termasuk kantor- kantor baik instansi pemerintah maupun swasta mustinya juga menyediakan ruang khusus untuk menyusui.

So, kita tunggu saja kabar baik selanjutnya dari Sulsel ya.

(sorry, tadinya mau nampilin gambar ibu menyusui, tapi ... nggak aja deh!)

original post by anang, yb

Apr 8, 2008

Ketika Pak Royo Meradang..


Nguiing.. nguing...
Busyet dah! Tengah malem begini kok ada yang nekad menelepon saya. Pasti bukan customer yang ngebet cari citra satelit atau sekadar tanya trik berbohong dengan peta. Lha dalah! Yang nelepon orang yang sangat penting. Pak Royo si pakar selebmatika! (saya langsung tahu karena semua nomor selebritis saya masukkan di ponsel saya).

"Halo, Saya Royo", sapanya halus. Mirip tekanan suara seorang priyagung kraton dalam pentas kethoprak Among Budoyo.

"eh.. iya. Saya Anang", jawab saya rada gagap. Biarpun suka sok-sok an kalau posting di blog, tapi kalau ngomong langsung seringkali saya grogi juga.

"Saya tidak cukup mengenal anda. Karena itu saya berusaha hormat kepada anda. Sayangnya Anda tidak cukup santun dalam menuangkan gagasan, pikiran, dan ide-ide anda di internet."

Saya cuma terdiam karena tahu kalimat barusan sekadar preambul, pengantar dari suatu kalimat inti yang ditahan-tahan.

"Saya protes keras atas tulisan anda di blog. Anda tidak pantas menuduh saya pakar asbun. lebih-lebih anda seorang jurnalis. Semestinya anda bisa chek and recheck, menerapkan both side story, tulisan yang berimbang, berwawasan, menghayati makna kebebasan yang bertanggung-jawab!"

Saya garuk-garuk kepala. Dalam hati saya bertanya, ini Pak Royo atau Bung Harmoko?

"Maaf" sela saya, "saya juga mau protes kalau boleh. Pertama saya bukan jurnalis. Memang saya beristrikan orang koran. Tapi isteri saya bukan di bagian yang suka tanya sana-sini itu. Isteri saya cuma bagian yang ngurusin jatah koran buat cukong koran."

"Bagi saya tidak ada bedanya." potong Pak Royo. "Anda pengganggur dan hidup anda seratus persen mengandalkan dari gaji isteri anda yang bekerja di industri pers. Jadi anda pun bagian dari kapitalis jurnalis." kata Pak Royo tegas.

Busyet dah! Makin ngaco juga pakar satu ini.

"Oh ya. protes satu lagi. Saya menyebut anda asbun bukan tanpa dasar!" sergah saya rada berani.

"Maksud anda?"

"Lha bukankah sebelum anda ngaku-ngaku sebagai pakar selebmatika, anda dulu cuma lulusan fakultas Perkebunan UGM . Pernah juga kerja di kebun jambu monyet sebagai ASBUN alias Asisten Perkebunan? "

"Anda jangan membelokkan pembicaraan. Itu masa lalu saya, dan itu tidak ada hubungannya dengan statement anda yang asbun." sahut Pak Royo sengit.

"Justeru anda yang asbun dan nyata-nyata melanggar privacy saya. Naskah yang anda gugat belum saya publish, dan baru akan nongol dua hari ke depan. Anda tahu kalau di blogspot sekarang ada fasilitas scheduled post?"

"Saudara Anang!" Pak Royo tampaknya makin meradang. "Saya tidak suka blog! Camkan itu! Saya tidak melanggar privacy. Setting blog anda gampang dilacak dengan melihat sekilas dari metadatanya. Jadi jangan salahkan saya atas keteledoran anda sendiri."

"Stop-stop! sudahlah. Ini sudah terlalu malam. Isteri saya sedang diare dan baru bisa tidur lelap sejam lalu!"

"Okey. Terserah anda, bung Anang! Anda mungkin menganggap hal ini sesuatu yang sepele, tapi mungkin tidak cukup sepele untuk kelangsungan perusahaan isteri Anda.."

Saya pun balas meradang. Siapa pun boleh menekan saya, tapi jangan sekali-kali di alamatkan ke anak dan isteri saya! Saya bangkit berdiri dan buuuk...! Saya terjengkang!

"Halah bapak! Mimpi lagi tho.. !"Gerutu anak saya sambil merengut.
"Katanya mau mbikin sarapan nasi goreng. Cepetan dong. Ini udah hampir jam enam pagi. Ntar telat!"

Saya mengucek mata saya yang masih kabur. Untung cuman mimpi! Saya tidak membayangkan betapa gemetarnya dengkul saya kalau benar-benar berhadapan dengan orang penting atau orang yang dekat orang penting gara-gara omongan ngalor-ngidul di blog. Apa mimpi saya terbawa oleh kejadian yang menimpa anak baptis saya , ya?


original post by anang, yb

Mar 28, 2008

Trans Jogja: Busway a la Jogja

original post by anang, yb

Anda sudah lebih dari setahun tidak singgah di Jogja?
Pastinya anda bakal pangling. Jogja kini makin tebal gincunya. Makin tinggi juga roknya. Rambutnya pun tak lagi rambut sunsilk yang hitam terurai, namun sudah diwarna-warni. Jogja mirip waria yang terlalu banyak melakukan suntik silikon. Sulit menemukan wajah aslinya, kecuali di hati kita.

Siap-siap saja untuk kaget. Di Jogja yang bakal anda temui adalah lautan KFC. Di tiap mal dan sudut jalan strategis selalu ada restoran cepat saji ini. MacD juga ada walau tak terlalu banyak namun siap buka 24 jam tak ubahnya MacD di Sarinah Jakarta. Bagaimana dengan menu metropolitan lainnya? Jangan khawatir. Anda tinggal sebut dan Joga bakal menyediakan buat anda. Roti Boy? ada! Bread Talk? Ada! Tak lupa juga sederet kafe yang dulu cuma ada di kota segede Jakarta, kini gampang saja ditemukan di Jogja.

Busway a la Jogja
Sutiyoso boleh gembar- gembor soal busway, tapi Jogja dengan kalemnya menyediakan moda transportasi serupa. Namanya Trans Jogja. Oh ya? Tengok saja gambar berikut ini.
Bila di dalam Busway Jakarta anda bakal kesulitan menemukan ibu-ibu berkebaya, oho... di Trans Jogja semua tumpleg-bleg. Pedagang bringharjo berkebaya dan membawa bakul dari bambu, seniman gondrong, atau mahasiswi menor bak artis sinetron kesasar pun ada! Tarifnya pun tidak mahal, cuma 3000 perak. Boleh beli tiket one trip, boleh juga tiket isi ulang, boleh juga pesan tarif pelajar. Hemm... nyaman, berAC, dan (masih) terbebas dari copet.

Kalau mau iseng, coba lirik name card 'pramugari' nya (maksudnya petugas yang berdiri di pintu bis) jangan kaget kalau anda temukan orang bertitel. Saat pertama kali mencoba naik TransJogja, saya langsung di sambut pramugari dengan titel S.Sos. Hebat ya? Atau Joga sudah berkelimpahan dengan sarjana? Bisa jadi. Yang membedakan Busway dan TransJogja adalah fasilitasnya. Bis TransJogja relatif lebih kecil namun tetap nyaman. BerAC juga. Halte TransJogja nyaris semuanya tanpa AC. Tidak semua halte menyediakan tempat duduk untuk penumpang yang menunggu. Oh ya, bis Trans Jogja juga belum dilengkapi dengan petunjuk otomatis seperti di Busway Jadi saat bis mendekati halte tertentu, maka pramugari/pramugara akan dengan santun berkata: ...sebentar lagi kita akan memasuki halte Giwangan. Bagi penumpang yang akan turun mohon mempersiapkan diri.....

Satu lagi: soal keramahan, kru TransJogja masih unggul dibandingkan anak buahnya Sutiyoso. Hal kecil namun berkesan bagi saya adalah saat pramugari dengan santun memakaikan sandal anak saya yang terlepas. Atau pramugara yang selalu dengan sigap dan tanpa disuruh menggendong anak saya menuruni TransJogja menuju halte yang lumayan tinggi. Ini baru Jogja taste!

Gimana? Penasaran dengan wajah baru Jogja?
Monggo pinarak...

Feb 7, 2008

gong xi fat chai ...!


Imlek lagi ya...
Kasian juga si kakak dan si adik tidak nonton barongsai. Tumpukan kerjaan yang makin menggunung, ditambah lagi persiapan saya untuk masuk hutan besok senin membuat saya pura-pura lupa kalau hari ini adalah hari nonton barongsai.

Taun-taun lalu, imlek masih masuk agenda untuk dirayakan. Setidaknya nonton barongsai dan pasang gambar bertema ke-cina-an di pintu rumah. Baju bercorak merah juga tak luput dari daftar belanjaan.

Si Engkong dan emak di Solo juga tak lupa menyapa kami. Gong Xi Fat Chai...! Kadang kala kue keranjang juga dibela-belain dikirim ke rumah kami dari tempat tinggal engkong di Solo.

Biarpun terlalu sedikit darah cina di dalam keluarga kami, tapi si kakak justeru lebih suka dipanggil orang Cina daripada orang Bantul hahaha....

Okey lah. Selamat imlek. Kebahagiaan dan kesuksesan buat kita semua ya...


original post by anang, yb

Feb 5, 2008

Ijinkan Aku mencintaimu lebih lama lagi

http://suratcintaku.blogspot.com/





Andai bisa kubagi separuh napasku,
tentu saat ini juga kan ku taruh di dadamu,
Bahkan andai seluruh napasku kau perlukan di saat maut sekuat tenaga menyeretmu,
tak perlu menunggu jam berganti detak. Ku berikan secepat yang kubisa.

Andai hanya dengan berjabat erat darah kita bisa bertukar,
tentu tak kan kulepas genggamanku di tangan keringmu.
Agar tak perlu lagi mesin pencuci darah menjeratmu setiap dua kali seminggu.

Andai waktu bisa kutarik barang setahun ke belakang,
Tentu bisa kuberi obat diabetes yang lebih manjur untukmu,
lebih dari sekadar obat seribu-dua ribu yang kau beli sendiri dari uang pensiunmu.

Andai ku bukanlah pengecut dan penakut
"Tentu telah kuberikan satu ginjalku sebagai pengganti ginjalmu yang hanya bisa menggantung di perutmu
Sama seperti engkau telah memberikan seluruh waktu, hidup, kasih, dan ilmumu bagiku tanpa sisa.

Andai ku tidak terlalu pelit dan mau membeli tiket pesawat terbang,
tentu masih ada sedetik-dua detik sebelum kesadaranmu melayang
tentu masih ada sedikit bisikku yang menelusup di telingamu
tentu masih ada sedikit getar di bibirmu, walau tanpa kata terucap
tentu masih ada sedikit kedip di mata sayumu.

Andai ku cukup dekat dengan Tuhan
Tentu kan ku tawar sedikit waktu untukmu
sedetik pun tak apa
agar ku punya sedikit waktu untuk berucap:

"aku ... mencintaimu.... simbah..."




original post by anang, yb

Jan 20, 2008

Antre Minyak Tanah, Kompor Gas Gratis, Stiker Helm

Biarpun saya gemar menulis, namun beberapa fakta yang saya lihat sehari ini membuat saya sulit untuk merangkai dalam satu tulisan. bantu saya ya...

Fakta I:
Lima ratus meter dari rumah saya ada pangkalan minyak tanah. Hari-hari ini setiap subuh selalu ada pemandangan yang membuat saya miris. Penduduk mengular menderetkan jerigen lima literan. Menunggu dan menunggu. Dari subuh hingga entah sampai kapan. Sudah sukur kalau sorenya kebagian, biarpun tidak sepenuh jerigen.

Fakta II:
Siang ini saya mendapat bantuan kompor gas. Komplet dengan tabung dan selangnya. Tentu saja tidak saya tolak.
Semua siap pakai. Tidak hanya saya yang dapat. Seluruh penghuni perumahan saya dijamin kebagian asal ber-KTP kalurahan setempat. 600 unit gratis untuk warga perumahan. Inilah jatah yang diberikan pemerintah. Tidak peduli walau sebagian besar penghuni adalah orang bermobil dan bersepatu mengkilap. Rumah banyak yang dua lantai. Termasuk yang saban hari menenteng handphone dan laptop seperti saya.

Fakta III:
Helm saya masih tertempel stiker bertuliskan "STOP KORUPSI - KORUPSI KAH AKU ?". Helm itu masih akan saya pakai untuk melindungi kepala dan otak saya.




***

Bagaimana anda bakal merangkai cerita atas tiga fakta tersebut? Atau mungkin fakta ke empat berikut bisa jadi perangkai sekaligus bumbu moral atas fakta-fakta sebelumnya:

Fakta IV
Hari ini saya menerima kompor gas gratisan, hari ini juga saya berniat untuk segera mengalihkannya untuk saudara saya di Solo yang penjual pepes tahu.

original post by anang, yb

Jan 17, 2008

NOKIA Floating in the Water


Biarpun dikata orang GPS tahan banting, anti air, bisa mengapung dst, tapi karena kita terbiasa bersikap hati-hati jadinya ya tidak pernah terpikir untuk mencobainya.

Siapa tega membanting GPS biarpun dikata orang barang tersebut tahan dijatuhkan dari gedung 3 lantai? Video yang saya pajang disini cukup membuat saya yakin kalau Garmin 76CSX memang nggak sekadar tahan air, tapi bisa berlagak layaknya lumba-lumba alias bisa mengapung.

Iseng punya iseng, eh.. kok nemu video tentang Nokia yang bisa ngapung! Padahal Nokia jenis ini udah bertahun-tahun dipakai isteri saya. Ooo.. ternyata bisa ngapung tho!

Ini video Nokia yang terbukti bisa mengapung: --> liatin dong nokia yang bisa ngapung..
original post by anang, yb

Jan 2, 2008

Dengarkan dongengku, tapi jangan tertidur ya...


Isteriku,
Tak ada lagi sisa buku dongeng di lemari kita, sayangku...
Semua dongeng sudah aku ceritakan kepada buah kati kita
Mulai kisah sedih Cinderela hingga Cindelaras
Cerita kecerdikan Pak Belalang hingga Batman
Bahkan kisah serdadu berkaki satu sudah kukisahkan lebih dari satu kali

Dongengmu, penuh dengan cerita inspirasional, bisikmu suatu ketika.
haha.. bukankah dulu pun engkau mengejarku karena aku jago bercerita?
Kini buah hati kita adalah tempatku mencurahkan kisah motivasi
Untaian kata terbalut dalam kisah inspiratif.

Isteriku,
Aku tahu tidurmu pun tak akan lelap tanpa bekal dongengku.
Engkaulah cinderelaku, dan buah hati kita adalah si putih salju.
Bawalah setiap dongengku dalam setiap degup jantung di tidurmu...

Isteriku, buah hatiku, inspirasiku...

original post by anang, yb

Jan 1, 2008

Selamat Datang 2008, Selamat Datang Banjir Bandang


gambar ngambil di sini.

Imlek identik dengan hujan deras dan terkadang banjir juga. Tapi tampaknya hujan bukan lagi makhluk yang penyabar. banjir Bandang dan hujan bak langit terbelah telah mengguyur negeri ini, utamanya Jawa di akhir tahun. Banjir bandang di mana-mana, termasuk komplikasinya yakni tanah longsor dan rusaknya rumah dan sarana-prasarana.

Tak perlu menunggu hitungan berapa jumlah kerugian yang timbul (yang beginian biarlah dihitung oleh para pejabat)yang pasti wilayah pemukiman yang sudah dihuni sejak manusia purba, yakni di sekitar Bengawan Solo berubah menjadi lautan coklat susu. Banjir campur lumpur dan longsoran tanah.

Tak luput juga daerah sekitar permukiman mertua saya di Solo Baru. Tempat saya tunangan, menikmati tengkleng, bubur ceker, warung lesehan Pak Item (kakak ipar saya) dan berikrar sehidup semati dengan cewek yang sekarang. Solo Baru yang di masa kerusuhan 1998 banjir darah dan banjir api, kini dilahap si jago coklat alias banjir.

Yang masih hapal doa-doa, sumbangkan saja sedikit waktu anda untuk berbagi doa. Yang masih menggenggam sisa THR natal, salurkan saja seiklasnya. Bisa datang langsung, lewat kotak amal di sepanjang jalan, atau kalau ribet sambangi saja bank terdekat dan salurkan lewat rekening bantuan amal yang mendadak banyak bermunculan di TV, koran, majalah, dll. Kalau mau sedikit beda, sumbangan bisa juga disalurkan lewat rekening yang dipajang cosa aranda di situsnya.
Selamat tahun baru, kayaknya musibah masih bakal mengisi tahun yang baru ini!

original post by anang, yb

Nov 20, 2007

Darah Simbah Dicuci



Panggil saja ibuku dengan sapaan Bu Jakob. Namun kalau anda pingin memanggilnya Mbak Sun atau Mbak Dari tentu saja ibuku tetap akan menengok dan tersenyum sambil memamerkan giginya yang mulai tanggal.

Bu Yakob kini tak lagi segesit dulu. Penyakit diabetes yang tanpa disangka diidapnya telah menggerus habis tubuhnya. Kulit menghitam, daging menghilang. dan, sejak setengah tahun lalu, fungsi ginjalnya tak lagi berdaya. Awalnya, mesin cuci darah hanya diperlukan setiap jumat. Namun sejak tiga bulan lalu, jadual mencuci darah harus dipenuhi setiap selasa dan jumat, seminggu dua kali!

Ah, simbah. Tak terbayang di masa lalu hidupnya sepenuhnya diabdikan untuk mengajar di SD inpres. Belasan tahun dikayuhnya sepeda onthel hitam menyusuri jalanan kota Bantul untuk menuju 'kantornya'. Sampai akhirnya Koperasi "SINAR", koperasinya pegawai negeri di Bantul meloloskan pengajuan sepeda motor Yamaha Bebek. Simbah pun menjadi berkurang capeknya sejak ditemani si Yamaha bebek.

Simbah tak pernah mengeluh. Demikian juga Pak jakob, suaminya, yang keduanya adalah orang tua saya. Berdua mereka membesarkan kelima anaknya tanpa pembantu! Kalian adalah raja sekaligus pelayan di rumah ini, pesan bapakku suatu ketika.

Yah, ibu yang guru SD inpres dan Bapak yang kepala sekolah SMP Putratama, salah satu sekolah swasta di Bantul. Bapak yang pendiam namun jago mengajar bahasa inggris, fisika, musik, menyanyi, dan... mengarang (ini yang diwariskan kepadaku) dipadu dengan ibu yang tegas, selalu menemani (dan sesekali berusaha sabar) saat kami berlima mengelilingi meja sambil membaca buku. Sesekali juga Bapak memompa lampu petromaks yang setengah jam sekali meredup.

***

Bapak meninggal saat kami semua sudah diwisuda. Syukurlah. Apa lagi yang bisa dibanggakan pasangan guru selain mengikuti upacara wisuda ke lima anaknya? Empat lulusan UGM dan satu lulusan UNS. Satu keinginan Bapak yang belum kesampaian hingga akhirnya hayatnya: membeli mobil untuk keluarga, sebab hingga maut menjemput, tabungan belum cukup untuk membeli mobil bekas termurah sekali pun. Semua uang telah didedikasikan untuk pendidikan kami.

***

Simbah pun akhirnya menjadi kepala keluarga, walau kami telah tercerai berai. Saya dan adik terkecil di Jakarta, kakak di Yogya dan Kediri, serta satu adik lagi di Bandung. Simbah tetap bertahan di rumah lama kami, di Dusun Gedongan bertetangga dengan keluarga pak Jenggot yang ayahnya Udin wartawan Bernas itu. Simbah lebih memilih tinggal di sana, menunggui sisa harta yang dimilikinya, rumah kami dan motor Yamaha bebek kesayangannya yang sudah berusia puluhan tahun.

***

Terbukti, walau sudah di alam sana, Bapak masih menemani ibu. Genap selamatan 1000 hari meninggalnya Bapak, gempa mengguncang dusun kami. Simbah berdarah, tapi selamat.
Harta milik simbah pun tak lagi berupa. Rumah roboh dan Yamaha bebeknya terurug bongkahan-bongkahan tembok. Sama seperti ribuan keluarga lain yang berduka, Simbah pun sangat berduka. Sangat mendalam.
Simbah pun akhirnya tinggal di rumah anak-anaknya. Sekian bulan di Kediri, dan sekian bulan di rumahku. Sampai akhirnya suatu ketika simbah sakit. Dari sanalah akhirnya diketahui kalau simbah pun menderita penyakit yang sama dengan bapa: diabetes! Tampaknya penyakit ini tidak datang tiba-tiba. Mungkin sudah lama diidapnya. namun sama seperti Bapak, ibu pun tak pernah meperlihatkan rasa sakitnya di depan anak-anaknya. tak sekali pun mengeluh atau memasang wajah duka.

***

hari-hari terus berlalu, tak hanya sekali ibu harus masuk rumah sakit. Obat apa pun yang diberi dokter diminumnya, sampai akhirnya ginjalnya tak lagi berdaya. Entah karena komplikasi dari penyakit diabetes atau dari obat yang dikomsumsinya setiap hari. Ibu pun kini tergantung mesin cuci darah.

***

"Aku lagi nunggu uang pensiun bulan desember dan THR natal" kata ibuku saat aku menjenguknya di awal nopember lalu. "Aku pingin pasang klep di tangan biar cuci darahnya gampang. Soalnya kalau selangnya dimasukkan pakai suntik, badan dan tangan tidak boleh gerak-gerak. Pinggangku tidak kuat tiduran empat jam selama cuci darah". Aku cuma terdiam. Ibuku tak pernah dan tak bakal mau meminta uang dari anaknya. "Katanya biayanya satu juta empat ratus," lanjut ibuku. "Nanti uang pensiun dan THR ditambah tabunganku di BPD moga-moga cukup."

Ah, simbah.....
original post by anang, yb

Nov 9, 2007

Jogja: Tak sempat aku berlama-lama denganmu...


Barusan balik dari Jogja setelah hampir setengah tahun kakiku tak menginjaknya. Sayang, tak cukup waktu berlama-lama di sana. Cuma tiga hari, dan Jakarta kembali menyeretku tanpa ampun.

Ingin rasanya segera berbagi cerita. tentang rumah kayu kakaku yang telah berdiri setelah rumah lamanya ditiup gempa satu setengah tahun lalu. tentang obsesiku yang jadi nyata, dan.... tentang ibuku di Bantul yang kini harus cuci darah dua kali dalam seminggu....

original post by anang, yb

Oct 30, 2007

Acer Aspire 4720: My first Notebook!


Pak Aliang yang pegawai pabrik onderdil mobil, sekaligus tukang ojek kalau sore, sekaligus jualan pop ice di rumahnya, barusan bikin car port. Ups, tentu saja bukan buat markir mobil, tapi khusus buat jualan pop ice. Setidaknya dia tidak ingin isterinya kepanasan sepanjang hari jualan di teras yang sempit.

Akhirnya berdirilah peneduh di teras, yang oleh orang kaya disebut car port!

Car port punya Pak Aliang membuat saya jadi malu. Hemm, penjual pop ice saja berani berinvestasi pasang peneduh yang biayanya tidak cukup sejuta rupiah. Lha saya?

Sebelas tahun jadi geografer kok masih pelit. Komputer yang dipakai, masihlah komputer rakitan tahun 2001. Enam tahunan ya? Belum butut sih, cuman kadang bisa booting kadang nggak hehehe... Emang sih dulu waktu beli sengaja dibikin rada bagusan. memory udah 512MB sejak keluar dari toko. Ingat lho tahun 2001 belum banyak yang kepikiran pasang memory sebesar itu.

***

Bulan ini bagi saya adalah bulan kejar tayang. Persis seperti Meriam Bellina di tahun 80an yang rangkap-rangkap teken kontrak dengan banyak produser. Beberapa kerjaan memaksa saya untuk berani berinvestasi kayak Pak Aliang. Anggap saja PC dengan layar 17 inch yang sudah menemani 6 tahun sudah habis masa penyusutannya. Udah uzur. Niat lama untuk punya notebook pun muncul lagi!

Tentu alasan pertama milih tipe notebook ya... kekuatan kantong, baru setelah itu milih spesifikasi. Berhubung kerjaan saya seputar GIS dan remote sensing yang rakus memory maka ukuran memory mutlak nggak bisa ditawar. Apa lagi ya? Oh ya processor, ini juga musti bagus mengingat barang dagangan saya alergi dengan komputer lemot.

Survei harga pun dimulai. Longok sana-sini situs penjual notebook...

Pilihan pun jatuh pada Acer Aspire 4710.

***

Berangkatlah isteri saya ke Ratu Plaza Jakarta ditemani Mas Te-I. Saya nggak ikut karena sedang piket momong anak di rumah. Nggak apa-apa deh.
Ternyata, di gerai resmi Acer, tipe yang saya incer sedang kosong. Duuhh... Akhirnya ditawarin lah Acer Aspire 4720. kayak apa sih? Di Bhinneka dotcom pun tipe ini belum nongol sampai tulisan ini dibuat. Tapi yang pasti, tipe ini setingkat lebih jozz dibanding yang saya mau. harga? tentu sedikit lebih jozz juga.

Acer Aspire 4720 udah Core 2 Duo, bukan Core Duo seperti tipe Aspire 4710. Udah ada bluetooth, web cam, dll. Berhubung memory "cuman" 512 MB, maka sekalianlah saya naikkan jadi 1 GB.

Akhirnya tercapailah keinginanku punya notebook. Setidaknya, sekarang lembur tak lagi digigitin nyamuk. Sebab kerjaan bisa dibawa ke atas ranjang di kamar (satu-satunya yang) ber-AC. Walau untuk itu aku musti merelakan honor selama bulan Oktober.

Ada notebook, saja jadi tidak terlalu malu lagi bila bertemu dengan Pak Aliang.

original post by anang, yb

Oct 19, 2007

Trappist Cookies


Hayo....
Lebaran kemaren sempat nyicipin makanan apa saja? Opor dan ketupat doang? Capeeek deehh..!
Di rumah saya, hari bergembira nasional ini dimeriahkan dengan kue-kue kering dan cookies. Sama seperti natal dan paskah lalu, kue kering yang tersaji bukan kami beli di pasar senen ataupun carrefour. Isteri saya lebih memilih kue-kue buatan para pertapa. Hemm... kayak apa sih kuenya?

Nggak beda kok bentuk, aroma, dan kemasannya. Untuk lidah saya yang sudah rada tumpul, rasanya pun sama enaknya dengan kue kering lainnya, tapi tidak menurut isteri saya, jauuh... lebih enak, katanya. Isteri saya paling suka keju kering, sedangkan saya lebih menyukai yang manis. Oh ya dimana sih belinya? yang jelas bukan di supermarket! hehehe....

Coba deh liat gambar kemasan kue yang menyertai tulisan ini. Ada tulisan 'Trappist' dan "Rawaseneng' di situ. Bagi yang belum tahu apa itu trappist silakan buka wikipedia deh, tapi intinya, saya mau mengatakan bahwa kue enak yang kami santap di hari-hari spesial, dibuat nun jauh di lereng jurang di tengah kebun kopi. Keju yang kami santap berasal dari tempat itu juga yang merupakan peternakan sapi, sekaligus perkebunan kopi, sekaligus pertapaan para rahib, sekaligus tempat retret bagi mereka yang mencari keheningan.

Seperti ditulis oleh Kompas, Pertapaan rawaseneng ini terletak di hamparan hutan pinus yang tersusun rapi. Hutan itu biasanya menuntun semua orang yang melewati bukit berkelok dan penuh tanjakan itu menuju satu tempat yang begitu sunyi dan terpencil, pertapaan Cistercensis Santa Maria (CSM), yang juga dikenal sebagai pertapaan Ordo Trappist.

Pertapaan itu sendiri seluas 178 hektar dan hanya dihuni oleh 33 rahib. "Meski kami lari dari dunia ramai, bukan berarti kami lalu acuh terhadap sesama dan kehidupan ini" papar Abas Frans Harjawiyata OSCO seperti dilaporkan oleh Pondok renungan. Untuk itulah meskipun jumlah rahib hanya 33 orang, tapi jumlah pekerja ada 100 orang yang masing-masing menghidupi rata-rata 3 anak dan istrinya. Pekerja-pekerja inilah yang mengelola ternak sapi, memerah dan mengolah susu, membuat keju, memelihara hamparan kebun kopi, dan mengolah kopi menjadi bubuk yang nikmat untuk diseduh.

***

Masih ada beberapa potong cookies tersisa di toples kami. Tapi jangan kuatir, malam minggu nanti pasti akan langsung ludes saat kami menikmati acara Extravaganza di TransTV. Bila tak ada lagi kue buatan tangan para trappist, tentunya isteri saya siap mengirim SMS ke pertapaan Rawaseneng untuk dikirimi kembali kue kering tersebut. Begitulah cara memesan kue kreasi para rahib.

Lebih jauh mengenai pertapaan Rawaseneng Temanggung:
Pertapaan trapist Rawaseneng
Memenuhi Panggilan dalam Hening
Pertapaan Rawaseneng buat saya adalah wisata spiritual
Ke Rawaseneng untuk melihat eloknya pemandangan alam sekitar
Ziarah rohani ke Rawaseneng

original post by anang, yb

Sep 26, 2007

Taruh Saja Anakmu di Departemen Kehutanan



Seminggu mengajar GIS selain membawa peristiwa ikutan berupa pesta sekeluarga makan lasagna dan brusetta di Pizza Hut juga pengalaman baru buat saya, isteri saya dan ragil saya: Justin, anak ragil saya akhirnya kesampaian juga untuk "bersekolah", walau cuma empat hari. Tentu saja ini diluar skenario, semata-mata karena memang tidak ada yang bisa menemani dia selama seminggu kemarin.

Awalnya adalah karena ketiadaan pembantu selama dua bulan terakhir. Sehari-hari si Justin -ragil saya- ya di rumah main sama saya, karena mamanya musti kerja kantoran secara reguler, berangkat jam enam pagi, pulang jam tujuh malem. Tidak bakal ada masalah sepanjang saya tidak ada acara keluar rumah. Tapi jalan hidup tidak sesimpel itu. Tawaran mengajar ArcGIS yang muncul mendadak tak urung membuat kepala berdenyut-denuyut.

Jadi gimana dong...? Kalau cuman sehari sih, bisa saja isteri mengajukan cuti, atau minta ijin nggak masuk. Tapi ini seminggu penuh, dari senin hingga jumat. Sempat terpikir untuk cari pembantu dadakan, tapi males ah. Paling juga nggak ada yang mau karena sekarang hampir lebaran. Nitip ke tetangga? Gimana ya. Nggak mungkin juga karena nggak cuman sehari-dua hari.

Berhari-hari pusing, akhirnya istri saya sempat nge-blink ingat penitipan anak di kompleks Departemen kehutanan! Yap, kenapa nggak dicoba ya... Akhirnya survei pun dimulai. Awalnya telepon dulu dan tanya ini-itu. Lumayan tertarik tapi musti membuktikan sendiri. Alhasil isteri pun melakukan survei langsung ke lokasi. Kesan pertama langsung sreg. Rapi, bersih, lengkap, nyaman dan yang pasti ramah.
Singkat cerita, mulailah Justin berangkat pagi-pagi -jam enam- bareng mamanya ke penitipan anak bernama Taman Bina Balita "Sylva". Hari pertama tentu saja masih menangis dan tidak mau ditinggal. Siang hari pun sewaktu mamanya menengok, dia masih menangis lagi, jadi musti dikelonin sebentar di bed yang tersedia hingga tidur pulas.
Hari kedua tangisnya mulai berkurang. Pengasuhnya pun baik dan ramah, tapi lebih ramah lagi adalah ibu-ibu Dharma Wanita yang mengelola penitipan anak tersebut. Silih berganti, ibu-ibu Dharma Wanita menyempatkan turun dan ngobrol dengan anak-anak: makan siangnya suka nggak? nasinya terlalu keras nggak...?

Lama-lama Justin betah juga, apalagi kalau mulai rewel, si mbak pengasuh (Justin menyebutnya mbak kerudung) mengajak jalan-jalan di lingkungan Departemen Kehutanan yang asri, termasuk mengunjungi museum yang letaknya masih satu kompleks.
Tiga pengasuh yang tersedia lumayan cukup untuk menemani bayi dan anak-anak yang jumlahnya hanya delapan biji.

Anda tertarik? Coba saja tengok langsung. Letaknya di Gedung Manggala Wanabhakti Blok VII lantai 1 sebelah gedung MPR/DPR. Kalau mau telepon nomornya 021-5730220-5720188.
Syaratnya gampang kok. Asalkan anak kita berusia 3 bulan hingga 4 tahun, sehat, serta tidak mengalami kecacatan yang memerlukan penanganan khusus.
Bagaimana dengan biaya? Saya nggak komentar deh. Coba lihat daftar berikut:

a. Untuk karyawan Dephut (PNS)
bulanan 300ribu
Mingguan 100ribu
Harian 30ribu

b. Untuk karyawan BUMN di lingkngan Dehut
bulanan 400ribu
Mingguan 140ribu
Harian 40ribu

b. Untuk karyawan swasta/umum
bulanan 450ribu
Mingguan 170ribu
Harian 45ribu

Jangan khawatir soal makan siang, karena biaya sebesar itu sudah termasuk makan siang. Makin tertarik? Bookmark saja blog ini, siapa tahu anda membutuhkan, apalagi musim pembantu mudik tinggal sesaat lagi...!
original post by anang, yb

Sep 21, 2007

Mosok sih nggak mirip?






Si kakak nggak pernah mau dibilang mirip papa.
Nggaaak! Aku mirip mama!
Padahal dari kulitnya ketahuan kalau anak dan papanya sama-sama putih huahahaha..
Bentuk tulang wajah juga sama, bulat telur. Kalau si adik justeru mirip mama karena berkepala bulet.
Tapi memang sudah nasib saya, tidak ada yang mau diserupakan dengan saya... termasuk isteri saya!


original post by anang, yb

Aug 24, 2007

Roti berdebu itu telah tersimpan selama 25 tahun (bagian satu)


25 tahun? Astaga!
Kubanting tubuhku ke atas sofa. Balutan kain sofa selembut sutera membenamkan tubuhku. Juga pikiranku.
Selama itukah aku sudah menikah? Ah, kuhela napasku sehabis-habisnya. Kulepaskan penat yang kutahan selama 25 tahun. Pandangan mataku menyisir seluruh isi ruangan. Deretan kristal dan guci Tiongkok tak cukup mampu menahan sapuan pandanganku kecuali... foto besar persis di depan mataku. Kuangkat punggungku dan kuhampiri foto besar bergambar diriku dan suamiku dalam balutan baju pengantin nan menawan. Tak dapat kutahan saat air dingin menggenang di pelupuk mataku.
***

Jemariku menelusuri bagian demi bagian foto itu. Ah, semestinya di sudut ini ada sepotong tangan keponakanku yang nyelonong ikut berpose. Dan di tanganku semestinya tergenggam rangkaian bunga tangan dengan warna-warni. Ada merah, ungu, hijau, dan putih. Teman-teman gerejaku yang sengaja merangkainya. Konon mereka berpatungan sepuluh ribu rupiah per orang untuk membeli rangkaian bunga itu.
“Foto ini tidak cocok dipasang di sini, Elen.” nasehat Greis, salah seorang anggota tim manejemenku yang paling tua. Saat itu aku baru saja membeli rumah besar ini.
“Ruang ini adalah mimbarmu, Elen. Kapan pun media mewawancaraimu, lakukan hanya di tempat ini.” Nasehat Greis setengah memaksa. “Kupilihkan sofa paling elegan untukmu. Dan foto itu, kalaupun kamu memaksa ingin tetap terpasang, ijinkan aku untuk sedikit mengeditnya.” lanjut Greis.
Aku mengangguk. Aku percaya pada Greis. Karier dan hidupku kupercayakan sepenuhnya pada Greis. Dia pengatur yang tangguh, dan keras.
***

“Tidak perlu terlalu sentimentil, Elen” kata Greis saat mengantar foto besar itu ke rumahku. “Kamu butuh pencitraan, Elen. Deretan kristal, sofa bermerk, tangga melingkar, dan foto ini akan menjadi setting yang elegan untuk setiap sesi wawancaramu.” papar Greis yakin. “Toh kamu masih menyimpan foto aslinya, kan?”
Lagi-lagi aku cuma mengangguk.
Aku tersentak saat Greis mulai merobek kertas coklat pembungkus foto besar itu. Tapi aku tidak ingin menampakkan keterkejutanku pada Greis. Kasihan, dia sudah berusaha keras mencari editor foto terbaik di negeri ini.
Foto itu telah berubah total. Wajahku lebih halus tentu saja. Juga wajah suamiku, tampak pipinya lebih berisi. Tak ada lagi tangan nyelonong keponakanku. Bunga tangan kini berubah menjadi bunga putih semuanya. Rangkaiannya lebih besar berbalut pita menjuntai hingga lantai. Dinding gereja di latar belakang diubah menjadi gereja klasik lengkap dengan pilar-pilar menjulang. Dan... sosok Pastor Hanzen yang semula berdiri diantara kami (dan tangannya merengkuh pundak kami) telah dihilangkan!
Kutepis segera keinginan untuk memprotes Greis. Ah, tidak. Toh seperti kata Greis, aku masih menyimpan foto aslinya. Kapanpun aku bisa melongoknya di album foto.
***


Orang mengenalku sebagai pribadi yang smart, anggun, cerdas, dan paham betul isi dunia. Lagi-lagi kecerdasan Greis dan strateginya yang jitu dan kadang menyerempet bahaya telah mengantarkanku pada citra sehebat itu.
“Citra diri adalah jalur cepat meraih kesuksesan, Elen” papar Greis. “Citra diri bakal membuatmu gampang potong kompas untuk masuk komunitas manapun. Mendekati siapa pun. Meraih apa pun. Yakinlah itu!”
Greis menemukan diriku saat masih menjadi wedding singer. Selanjutnya tangan dingin Greis menyulapku menjadi figur publik. Tak hanya sekadar penyanyi, tapi juga MC, host acara TV, model iklan, pemain teater, dan terakhir orang mengenalku sebagai penulis buku bestseller! Semua berkat citra yang dibangun oleh greis. Tidak sekadar “memelihara” wartawan, tapi juga membangun weblog senilai puluhan juta rupiah yang dikawal empat penulis handal.
Hidupku adalah citraku. Hari-hariku adalah gemerlap, glamour, dan kerling kesuksesan nan menggoda.
***

Kembali kubenamkan tubuhku ke dalam sofa hangat. Tak sengaja ujung jemariku menyentuh ponsel yang tergeletak di sandaran sofa. Kutarik lagi tanganku menjauhi ponsel itu. Masih terngiang di telingaku, bagaimana suamiku melampiaskan kegusaran dan kemarahannya lewat ponsel. Semata-mata karena aku membatalkan kue ulang tahun pernikahan yang dipesannya! Keterlaluan. Apa hak dia memarahiku? Lagipula kue itu terlalu kecil dan norak. Sangat tidak matching dengan dekorasi yang telah kusiapkan sejak sebulan lalu.
Lagipula (sekali lagi kukatakan) apa hak dia memarahiku? Bukankah apapun yang dia beli toh berasal dari keringatku, bahkan celana dalampun tak sanggup dia beli sendiri!
25 tahun aku bersuami. 25 tahun aku hidup dalam dunia muslihat pencitraan.
Kupejamkan mataku dalam kepenatan yang luar biasa.
Beri aku sedikit waktu untuk merangkai mimpiku sesukaku.
Nanti, kuceritakan lagi, betapa kosongnya perkawinan dan hidupku. Tidak hanya sehari dua hari, tapi sepanjang seperempat abad!

Salam,
Elen...

original post by anang, yb

Aug 19, 2007

17 Agustus 2007: Genap 62 Tahun Republik Ini Berdiri



62 tahun berdiri...? Capeekk deehh....!
(capek ngantri minyak goreng, capek ngantri beras murah, capek nunggu sekolah dibetulin, capek liat badut senayan..)
original post by anang, yb

Jul 4, 2007

Ada lho mainan edukatif seharga dua ribu perak



Nggak semua mainan itu mahal lho.
bahkan barang-barang yang sebetulnya bukan mainan, bisa saja kita sulap jadi mainan yang menarik. Salah satunya kartu domino!
Kartu ini gampang diperoleh di toko atau warung terdekat, harganya pun cuman sekitar dua ribu perak.
Di tangan anda, kartu ini bisa lho jadi mainan edukatif, setidaknya anda bisa menggunakannya untuk mengenalkan bilangan dan operasi bilangan.
Permainan ini cocok untuk anak usia pra sekolah, ya sekitar 2-5 tahunan.

Apa saja yang bisa dilakukan dengan kartu ini? Simak deh beberapa contoh berikut ini:

a. Mengenalkan pola
Mainkan saja seperti bermain domino biasanya. Katakan bahwa anda pingin membuat kereta api yang panjaaaang.... Urutkan dengan cara menimpa setiap pola lingkaran yang sama. Apakah anak usia 2 tahun bisa? Tentu. Setidaknya sudah saya coba pada anak saya. Biarpun dia belum bisa membilang satu hingga sepuluh secara benar, tapi dengan melihat pola-pola lingkaran, bisa kok dia mengikuti permainan ini.

b. Belajar membilang
Kocoklah kartu, dan minta anak anda mengambil satu kartu. Temani dia untuk membilang setiap lingkaran di kartu. Cara ini sangat efektif dan menyenangkan. Setidaknya anak anda belajar menghitung satu hingga dua belas.

c. Belajar membandingkan
Setiap kartu domino dipisahkan dengan sebuah garis. Ajaklah anak anda menghitung jumlah bulatan di sebelah kiri, setelah itu hitung juga bulatan di sebalah kanan. Ayo mana yang lebih banyak? Mana juga yang lebih kecil...

d. Bila anak anda sudah memasuki usia TK, permainan bisa dilanjutkan dengan operasi penambahan. Bulatan di sisi kiri ditambah sisi kanan. Boleh juga anda lanjutkan dengan pengurangan atau bahkan perkalian.

gampang kan? Jadi orang tua memang musti kreatif, setidaknya agar anak tidak sekadar kenal Barbie dan Sponge Bob.

original post by anang, yb